Air Terjun Alur Kanan, Gunung Pandan

Gunung pandan, Sabtu, 10 September 2016

Mimpi, kami yakin semua orang mempunyai mimpi besar. Yang membedakan satu sama lainnya adalah seberapa besar dari masing-masing orang untuk menggapai mimpi besar itu. Mimpi kami adalah suatu saat Aceh Tamiang ini akan menjadi pusatnya Pariwisata di Perbatasan Aceh. Salah satu usaha yang kami lakukan adalah dengan mengenalkan ke masyarakat tentang ADANYA potensi wisata di Aceh Tamiang. Awalnya kami yang menggantungkan mimpi itu akhirnya dua tahun yang lalu bisa melakukan perjalanan menelusuri setiap jengkal keindahan Bumi Muda Sedia ini. Tidak banyak memang orang yang peduli untuk membangun daerahnya terutama kami lihat pemuda-pemudi saat ini.

 

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat dan juga bukan waktu yang lama untuk menikmati perjalanan ini. Mulai dari kejadian haru, sedih, lucu dan bahagia. Seperti rasanya syukur kami karena telah diberi kesempatan dan kesehatan untuk melakukan ekspedisi lanjutan di salah satu aliran anak sungai gunung pandan ini.

Perjalanan kali ini hanya beranggotakan 5 orang saja (Saya, Armansyah Putra, Yusri, Andri dan Yudi) diawali dengan berjalan kaki mulai dari lokasi pemandian gunung pandan pada pukul 09.30 WIB. Sedangkan sepedamotor yang kami bawa dititipkan di rumah salah satu alumni SMK Negeri 2 Karang Baru yang tinggal di dusun gunung pandan. Sebenarnya bisa saja  parkir sepeda motor di atas perbukitan aliran gunung pandan ini, hanya saja karena sekarang ini daerah gunung pandan sering masuk wisatawan dari luar desa, jadi sangat rawan untuk memarkirkan sepeda motor tanpa ada yang menjaganya. Apalagi kami prediksikan perjalanan ini sampai sore hari.

Setelah 60 menit berjalan menapaki bukit dan lembah di gunung pandan ini, kamipun terhenti sejenak di bawah pohon rindang yang menyelimuti aliran sungai. Ya sekedar berenang-renang sejenak menikmati keindahan alam dan dinginnya air sungai. Hamparan butiran pasir di tempat ini menambah eksotiknya pemandangan sekitar sungai.

Lihat nichh…jernihkan airnya….:D

EKspedisi kali ini merupakan ekspedisi lanjutan mencari air terjun gayung (baca air terjun serong). Sebelumnya kami menemukan percabangan aliran sungai dan pada tanggal 4 September 2016. Kami telah menelusuri sebelah kiri percabangan aliran sungai dan menemukan air terjun (air terjun serong, dan air tejrun batu merah). Enam hari kemudian kamipun langsung melakukan penelusuran ke sebelah kanan percabangan  aliran sungai ini.
Keberadaan adanya air terjun gayung ini sebenarnya masih menjadi tanda Tanya besar di benak seluruh anggota tim. Ada atau enggak sich air terjunnya gayungnya? Jauh atau dekat nie lokasinya? Kalaupun ada air terjun, cantik atau enggak air terjunnya?. Pokoknya dengan sejuta rasa penasaran itulah kami memiliki semangat untuk setapak demi setapak melangkah menelusuri aliran anak sungai ini.

Dibandingkan dengan aliran sungai air terjun sebelumnya, bentuk aliran sungai kanan ini memang terlihat lebih menanjak. Disini juga sudah tidak ditemukan lagi perkebunan karet tetapi ternyata ada beberapa potongan kayu ilegal loging yang melintang baik dipinggir maupun di sungainya.

Setelah satu jam berjalan dari percabangan aliran sungai, ternyata semakin banyak air terjun-air terjun setinggi 2 sampai 3 meter yang kami lewati dan terbentuk kolam-kolam kecil di bawahnya.

Perjalanan Kami sempat terhenti karena menemukan percabangan lagi di aliran anak sungai ini. Pilihannya ada dua, lurus atau belok ke kiri. Karena memang niat dari awal memang penelusuran mencari potensi air terjun, akhirnya kami putuskan untuk menelusuri percabangan aliran anak sungai ini terlebih dahulu.

Tidak seperti yang diharapkan, aliran sungai ini sangat susah dilewati. Ternyata di aliran anak sungai yang kami pilih, puluhan batang pohon melintang menutupi akses jalan sungai. Pohon-pohon besar yang mungkin berumur ratusan tahun sudah habis ditebang karena pembalakan liar hutan. Batang-batang kayu ini tersusun berlapis-lapis dan terkadang potongan kayu yang kami pijak amblas ke bawah. Dan yang paling sulit dan berbahaya, kami harus melewati terowongan-terowongan sempit puluhan batang kayu ilegal loging ini dan berhati-hati jikalau amblas.

Sudah 40 menit Susah payah kami berjalan dari percabangan sungai ini, tetapi sama sekali tidak terlihat adanya air terjun. Maka kami putuskan kembali keluar percabangan dan berehat.

TOTAL KAMI BERJALAN KE ATAS GUNUNG sudah 3 jam lebih. Rasa putus asa pelan-pelan mulai menggerogoti kami, ditambah lagi semua kru sudah mulai kelelahan karena melewati puluhan batang kayu tadi. Belum lagi membayangkan lelahnya perjalanan pulang.

Liat nich si Yudi bisa bener-bener tidur walaupun badannya lagi di dalam air sungai. Efek kelelahan pastinya…. 😀

Karena keterbatasan waktu dan persediaan makanan, kamipun bingung apakah perjalanan ini diteruskan atau dilanjutkan lain waktu. Akhirnya saya, Pak Arman dan murid saya Yusri sepakat naik ke atas lagi 15 menit tanpa membawa tas sehingga tidak begitu lelah. sementara Yudi dan Andri menunggu di bawah.

Sayapun mengatur stopwatch agar kami tidak melebihi waktu. Baru berjalan 5 menit kami menjadi semakin optimis karena menemukan lagi air terjun-air terjun setinggi 2 meter.

selama 15 menit  naik ke atas, tidak ditemukan lagi air terjun seperti yang diharapkan. Tetapi karena terlihat aliran air sungai ini sepertinya menuju bukit yang tinggi dihadapan kami, maka perjalanan tetap dilanjutkan. Dan benar saja, sontak suara sorak gembira kami bertiga mewarnai senangnya rasa hati ini. Bagaimana tidak, air terjun yang ditemukan tingginya kira-kira 20 meter dan terlihat hutan disekitar air terjun ini masih sangatlah alami. (very natural).  Woooo.ooooooooo.ooooooooooo…….

Rasanya tiba-tiba lelah badan ini menjadi hilang, ditambah lagi kami merasa nyaman berendam di bawah derasnya air terjun.

Di setiap tingkatan air terjun ini keindahannya berbeda-beda. Masing-masing tingkatan jaraknya berdekatan. Karena kami sudah kelelahan, makanya hanya sampai di tingkat 3 air terjun. Hanya satu orang kru saja yang sudah sampai ke tingkatan ke-5 air terjun ini. Karena keterbatasan waktu kami tidak bisa lagi menelusuri tingkatan-demi tingkatan air terjun ini. Butuh ekspedisi lanjutan untuk dapat tau berapa sebenarnya jumlah tingkatan yang ada di air terjun ini..

Di tingkatan ke-2 air terjun ini seperti tingkatan yang ada di air terjun 1000.

Nah di tingkat 3 air terjun ini kami lebih lama menghabiskan waktu menikmati kesejukan air terjun. Lihat saja tanaman yang tumbuh diantara air terjun, membuat suasana air terjun lebih mempesona. Karena airnya yang lumayan deras membuat kami terlena dengan kenikmatan alam ini.

Dari perjalanan kami ini kami simpulkan, ternyata AIR TERJUN GAYUNG yang dimaksud warga setempat bukanlah air terjun yang kami temukan ini. Mungkin yang dimaksud adalah air terjun-air terjun kecil yang kami lewati selama perjalanan menuju air terjun baru ini.

makna dari perjalanan kami ini bukanlah terletak dari cantiknya tempat  tujuan/destinasi. Tetapi arti perjalanan sesungguhnya adalah bagaimana kita berbagi dengan sesama, mensyukuri setiap peluh keringat yang jatuh, belajar memulai sesuatu dengan apa yang ada dan rasa tanggungjawab membangun daerah Bumi Muda Sedia ini”

Bagikan artikel ini: